Mengapa kita harus kasihan dengan orang narsis yang gemar cari perhatian?

Hak atas foto Rex Futures
Image caption Sebuah mural dari selfie telanjang terkenal Kim Kardashian di sebelah mural Donald Trump. Karya ini disebut sebagai hasil karya seniman jalanan "lushsux".

Ada dampak buruk yang mengejutkan dan tak mengenakan dari pikiran yang menganggap bahwa Anda merupakan pusat alam semesta.

Kita mungkin bisa mengenali orang-orang yang suka cari perhatian hidup kita – dan tampaknya semakin banyak orang di dunia politik dan kultur pop – yang memiliki perasaan yang membuncah terkait betapa penting dirinya dan kemampuannya dengan mengabaikan kemampuan dan betapa pentingnya orang lain.

Psikolog menyebut mereka dengan sebutan manusia narsis, dari karakter Narcissus di mitologi Yunani, yang jatuh cinta pada refleksi dirinya sendiri.

Ketika Anda menemui orang semacam ini, pada awalnya kesombongan mereka mungkin tampak memikat, tetapi gemerlap itu segera hilang setelah perilaku ‘lihat-saya’ dan sikap meremehkan orang lain menjadi semakin jelas.

Anda mungkin menganggap orang narsis di kantor Anda atau di keluarga Anda (atau tokoh di televisi) adalah manusia yang arogan dan menyebalkan.

Jika ya, itu bisa dimengerti, tetapi sebenarnya riset-riset terbaru di area ini menunjukan bahwa sikap paling pantas merespons orang narsis adalah mungkin rasa kasihan, dan bahkan mungkin dengan kebaikan.

Pertimbangkan penemuan konsisten pertama, bahwa di bawah keangkuhan dan egomania, banyak orang narsis yang sebenarnya menderita kurang percaya diri yang kronis.

Ini telah diperlihatkan dengan berbagai gaya, termasuk penggunaan sebuah versi dari “tes asosiasi implisit”, di mana dalam konteks ini mengukur seberapa siap seseorang mengasosiasikan kata-kata terkait diri sendiri dengan kata-kata yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang narsis tingkat tinggi mengatakan mereka memiliki tingkat percaya diri yang tinggi, tetapi ketika dites di laboratorium, mereka sangat cepat mengasosiasikan kata-kata terkait diri seperti ‘saya’, ‘punyaku’, atau ‘diri sendiri’ dengan kata-kata yang tidak menyenangkan seperti ‘sakit’, ‘penderitaan’, dan ‘kematian’.

Metode imajinatif lain yang mengungkap kerentanan dalam diri orang narsis adalah teknik ‘pipa palsu’. Beberapa partisipan memakai sebuah alat rekam psikologis dan mereka diberitahu bahwa alat ini bisa mengungkap apakah mereka bohong.

Sementara partisipan lain sebagai pembanding, juga dihubungkan pada alat itu tetapi diberitahu bahwa alat itu mati.

Sebuah riset yang melibatkan 71 perempuan menemukan bahwa orang narsis di antara partisipan dilaporkan memiliki tingkat percaya diri lebih rendah ketika mereka merasa bahwa kebohongan mereka akan terungkap, dibandingkan dengan orang narsis yang merasa bahwa mereka bisa mengontrol situasi.

Bahkan, mereka dilaporkan memiliki tingkat percaya diri yang lebih rendah dibandingkan perempuan yang bukan termasuk orang narsis.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebuah mural oleh seniman grafiri Melbourne 'lushsux', sebagai reaksi seteru Taylor Swift dan Kim Kardashian di media massa.

Semakin kuat, gambaran orang narsis sebagai manusia yang terlalu banyak mengkompensasi keraguan dirinya didukung oleh temuan dari riset gambaran otak. Misalnya, satu penelitian melibatkan pemindaian otak anak muda laki-laki selagi mereka bermain game komputer kolaboratif yang disebut ‘cyber-ball’.

Ketika rekan satu tim mengabaikannya, partisipan yang lebih narsis tidak mengatakan bahwa itu mengganggunya lebih dari yang lain, tetapi otak mereka menunjukan level aktivitas tinggi di area yang diasosiasikan dengan sakit emosional dan sosial.

Baru-baru ini, peneliti saraf di Universitas Kentucky menggunakan teknologi pemindaian berbeda untuk menyelidiki kepadatan saluran penghubung di bagian yang berbeda dari otak partisipan.

Penelitian yang dipublikasikan awal tahun ini menunjukan bahwa semakin tinggi skor partisipan dalam kuisioner mengukur orang narsis, semakin sedikit jaringan ikat yang mereka punya antara ‘medial prefrontal cortex’ – wilayah otak yang diasosiasikan dengan pemikiran tentang diri sendiri – dan ‘ventral striatum’, wilayah yang terkait dengan pengalaman penghargaan dan kesenangan.

Para peneliti mengatakan ‘defisit internal dalam konektivitas penghargaan-diri’ membuat sulit bagi para narsistik untuk berpikir positif tentang diri mereka dan ini bisa menjelaskan mengapa mereka selalu mencoba untuk mendapat perhatian dan menopang kepercayaan diri.

Tetapi fakta bahwa orang narsis adalah orang yang di dalam dirinya rapuh bukanlah satu-satunya alasan untuk mengkasihani mereka. Riset yang lain menyiratkan bahwa cara mereka melakukannya akan membuat hidup menjadi stres bagi mereka.

Penelitian di Swiss mengamati ratusan orang selama enam bulan, termasuk mengukur tingkat narsisme dan pengalaman yang membuat stres.

Hasilnya menunjukan bahwa orang yang memiliki skor tinggi pada tingkat narsisme cenderung mengalami lebih banyak stres dalam hidup mereka, seperti sakit, kecelakaan, dan berakhirnya hubungan.

Berdasarkan hal ini, peneliti di Universitas Bern menyimpulkan bahwa “narsisme adalah aksi maladaptif (gangguan atau kegagalan dalam penyesuaian diri) bagi individu karena individu yang narsis menciptakan hal-hal yang merugikan bagi hidupnya.”

Ini termasuk berita buruk, mengingat mereka mungkin lebih sensitif dibandingkan banyak orang untuk melawan efek stres.

Misalnya, sebuah tim yang dipimpin oleh Koey Cheng di Universitas Illinois di Urbana-Champaign meminta pada 77 mahasiswi untuk menyimpan diary emosi negatif dan mengambil contoh air liur mereka untuk melihat tanda-tanda reaksi biologis dari stress (terutama, kortisol dan protein alpha-amylase).

Mereka menemukan bahwa mereka yang memiliki skor tinggi terkait narsisme menunjukan kenaikan tanda psikologis stres ketika mereka semakin banyak merasakan pengalaman negatif, sementara non-narsistik tidak – temuan ini menunjukan bahwa orang narsis adalah orang yang mudah tersinggung dan sensitif.

Di saat yang sama kita menyadari kerapuhan mereka, penting untuk mengingat bahwa orang narsis memiliki kualitas positif; dalam konteks terbatas mereka bisa luar biasa gigih ketika menghadapi kemunduran, tidak punya keraguan untuk membuktikan harga diri mereka kepada diri sendiri dan orang lain, dan ada bukti bahwa tim kreatif bisa memperoleh keuntungan dari memiliki satu atau dua orang narsis untuk menginspirasii kompetisi kecil di kantor yang sehat.

Bahkan ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa dengan sedikit dorongan – meminta mereka untuk melihat perspektif orang lain – orang narsis bisa membangkitkan rasa empati yang lebih besar.

Melihat semua riset ini ada alasan yang baik bagi Anda, jika bisa, untuk lebih sabar – lebih sayang bahkan – pada orang narsis di hidup Anda, Karena tampaknya mereka melakukan kompensasi yang berlebihan terhadap keraguan mendalam mereka.

Dan sementara mereka mungkin tampak sombong dan mencuri semua sorotan, kemungkinan besar dalam jangka panjang, mereka tidak bisa menghadapinya dengan baik, terutama jika hal itu berbalik padanya.

Anda bisa juga membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul Why we should pity attention-seeking narcissists atau artikel lain dalam BBC Culture.

Berita terkait