Kenapa peristiwa kebetulan sangat jarang terjadi

Mengenang David Bowie Hak atas foto Getty Images
Image caption David Bowie ialah salah satu orang terkenal yang meninggal di awal tahun 2016.

Rasanya setiap hari di tahun 2016 ada selebriti terkenal yang meninggal atau penembakan massal di suatu tempat.

Baru-baru ini, dalam kurun waktu dua pekan Harambe si gorila ditembak mati karena membahayakan nyawa seorang balita dan seekor buaya membunuh anak berusia dua tahun di Florida. Sementara itu di Inggris Raya, selang beberapa hari perdana menteri, pimpinan Partai Independen (Ukip), manajer timnas sepak bola, pembawa acara Top Gear di BBC, dan 63 tokoh penting partai Buruh semuanya mengundurkan diri.

Namun tajuk utama yang sama terus-menerus, atau bejibunnya bencana alam, amat mungkin mencerminkan bagaimana kita mengonsumsi berita dan menyimpan ingatan alih-alih kebetulan yang nyata.

"Orang skeptis berpendapat bahwa kebetulan bisa terjadi jika Anda punya jumlah sampel yang cukup besar," kata Bernard Beitman, profesor di University of Virginia dan pengarang buku Connecting with Coincidence (Memahami Kebetulan). "Jika Anda melempar koin 1000 kali, ada peluang Anda akan mendapatkan kepala tujuh atau delapan kali berturut-turut. Akan tetapi, jika sejak awal Anda berusaha mendapatkan delapan kepala berturut-turut, kemungkinannya sangat kecil. Namun, karena dalam contoh pertama Anda punya sampel yang banyak, tidak mengherankan kalau terjadi hal yang tampaknya tidak mungkin.

"Inilah efek pengelompokan acak suatu peristiwa. Misalnya, mungkin ada puluhan kecelakaan pesawat setiap tahun, dan pada satu kesempatan Anda akan mendapatkan empat atau lima kecelakaan dalam pekan yang sama, murni karena pengelompokan acak. Ini tidak berarti pekan itu jauh lebih berbahaya untuk perjalanan udara dibanding pekan-pekan lain."

"Ahli statistik yang skeptis akan mengatakan, 'dalam populasi besar, hal-hal aneh dapat terjadi', dan mengabaikan kebetulan itu sebagai peristiwa acak."

Meski demikian, ada masalah dalam penggunaan kata "acak". "Definisi statistik 'acak' ialah dua peristiwa yang tidak saling berhubungan sepenuhnya," Beitman menambahkan. "Tetapi di dunia nyata, hampir mustahil membuktikan bahwa dua peristiwa tidak berhubungan, terutama ketika kita menyadari perbincangan di media. Sulit membuktikan bahwa alam semesta benar-benar acak."

Coba pertimbangkan laporan tentang dua penemuan yang terjadi bersamaan.

Hak atas foto National Archives and Records Administration
Image caption Penilaian lamaran paten Bell menunjukkan ia menyelesaikan desain purwarupa lebih dahulu dari Gray.

Alexander Bell dan Elisha Gray, misalnya, keduanya mengajukan paten untuk telepon di kantor berbeda pada hari yang sama - 14 Februari, 1876. Kedua desain dan purwarupa punya banyak kesamaan, dan beberapa perbedaan mendasar.

Namun, ini bukan kebetulan. Karya mereka didasari riset mereka sendiri dan banyak ilmuwan lainnya, yang bereksperimen dengan bidang telefonografi. Temuan itu tidak begitu saja muncul bagai sulap pada hari yang sama, tetapi merupakan hasil akhir yang menjadi tujuan; dan ujungnya, tinggal soal siapa yang lebih dahulu menyelesaikan desainnya. Maka tidak mengherankan ketika dua ilmuwan yang sama-sama berupaya merancang instrumen pengirim dan penerima suara mengajukan paten pada waktu yang sama.

Bahkan peningkatan nyata dalam jumlah kematian selebriti yang dilaporkan tahun ini dapat dijelaskan dengan cara sama. Berdasarkan editor obituari BBC, Nick Serpell, dalam tiga bulan pertama tahun 2016 terdapat jumlah 'fenomenal' laporan tentang kematian tokoh terkenal, dari David Bowie hingga Prince, dibandingkan tahun sebelumnya. Di antara 1 Januari dan 31 Maret, 24 obituari diterbitkan, sementara pada tahun 2012 dalam periode yang sama hanya ada lima.

Menurut Serpell, peningkatan itu disebabkan beberapa alasan: pertama, lonjakan populasi 50 tahun lalu berarti terdapat lebih banyak orang meninggal di masa sekarang. "Orang-orang yang mulai populer pada tahun 1960-an kini berusia 70-an dan mulai meninggal," ujarnya kepada BBC News.

"Sekarang juga terdapat lebih banyak orang terkenal dibandingkan dahulu karena pengaruh teknologi," ia menambahkan. "Pada masa generasi ayah atau kakek saya, orang-orang terkenal hanya pemain film - tidak ada televisi."

Alasan yang sama dapat menjelaskan satu kebetulan aneh dalam sejarah komik. Pada 1951, dua seri baru komik strip - satu dari Inggris, satu dari Amerika - diterbitkan untuk pertama kalinya. Keduanya bercerita tentang seorang anak nakal dan anjingnya, dan keduanya berjudul Dennis the Menace. Dua komik strip yang sama sekali tidak berkaitan, namun begitu mirip hingga mereka harus berganti judul ketika didistribusikan di negara masing-masing agar pembaca tidak bingung.

Peluang dua kartun dengan nama sama dan konsep cerita sama diterbitkan dalam selang lima hari dari satu sama lain di dua sisi berbeda dari Samudera Atlantik tampaknya sangat tidak mungkin; tetapi seperti dijelaskan Beitman, kebetulan semacam itu mengungkap jiwa zaman (zeitgeist) pada masa itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengelompokan acak dapat menjelaskan melonjaknya angka kecelakaan pesawat.

"Ide-ide beterbangan di udara," ia menambahkan. "Meskipun dua kartun itu diterbitkan secara terpisah, pembuatnya mungkin terinspirasi dari ide yang beredar di masyarakat. Hal serupa terjadi pada berita, kesamaan antara peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak saling berkaitan muncul karena kita menyadari jiwa zaman pada masa kini."

Hal ini kemudian diperkuat oleh editor berita, yang melihat permintaan untuk berita jenis tertentu, apakah tentang kematian selebriti atau serangan binatang, dan karena itu cenderung meliput kejadian serupa - meski tidak selalu berkaitan - untuk memanfaatkan zeitgeist, karena mereka tahu bahwa berita tersebut ialah topik pembicaraan banyak orang.

Kita juga cenderung mengingat kebetulan yang luar biasa, jelas Beitman. Kita sering berpikir bahwa berita buruk datang bertiga; namun pada kenyataannya, sepasang berita jauh lebih mungkin terjadi. Kita lebih mengingatnya ketika mereka datang bertiga karena itu tidak biasa. Hal ini menunjukkan bias dalam cara kita menyimpan kenangan - peristiwa yang tidak biasa lebih mudah diingat.

Jadi jika Anda merasa selalu mendengar berita yang muram, itu mungkin cerminan perangai Anda sendiri alih-alih keadaan dunia.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Why true coincidences are hard to find di BBC Future.

Berita terkait