Sisi rahasia Teluk Maya yang ramai

Thailand Hak atas foto BBC World Service
Image caption Deretan perahu tradisional Thailand di Kepulauan Phi Phi.

Kepulauan Phi Phi jelas bukan kawasan yang belum dijelajahi orang.

Terletak di lepas pantai Krabi, Thailand selatan, kepulauan ini terkenal dengan dua pulau terbesarnya, Phi Phi Don dan Phi Phi Leh. Dipuja-puja di buku perjalanan dan dicintai para turis dengan anggaran rendah, kedua pulau ini terkenal karena pantai pasir, air hangat, dan tebing batunya.

Tapi ada kelemahannya, yaitu ribuan wisatawan lalu lalang di pantai ini setiap hari, khususnya pada musim liburan: November sampai Maret. Jadi saya hampir tidak percaya ketika terbangun karena sinar matahari dan menyaksikan pantai Phi Phi yang terkenal itu hampir kosong.

Setelah menghabiskan beberapa hari di Phi Phi Don, pulau terbesar di antara dua pulau di sana, saya merasa bosan menjelajahi hotel-hotel yang tidak terhitung, restoran, toko kerajinan tangan, dan selalu berpapasan dengan wisatawan-wisatawan lain.

Maka dengan mudah saya pun terbujuk ketika mendengar kesempatan untuk menghabiskan satu malam di Phi Phi Leh yang tidak berpenghuni.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Pantai tanpa keramaian para turis.

Terkenal dengan Teluk Maya –surga pribadi Leonardo DiCaprio dalam film Beach tahun 2000- pulau ini dikenal sebagai destinasi wisata, yang dapat ditempuh sehari saja, sejak film tersebut beredar.

Setiap harinya, puluhan perahu motor cepat, feri, dan perahu tradisional dengan bagian belakang yang panjang, berangkat dari Krabi, Phuket, dan Phi Phi Don menuju Teluk Maya, penuh dengan wisatawan yang ingin menikmati pulau alami, belum dijamah orang seperti dalam film DiCaprio.

Dan kerumunan turis ini jelas membuat sulit untuk membayangkan Phi Phi Leh sebagai surga yang sepi. Pantai terpanjang di Teluk Maya tak sampai 200 meter, jadi mereka yang berjemur matahari sering berbaring dengan bahu yang berdampingan dengan bahu orang lain, sementara para penyelam saling ‘bertabrakan’ ketika berenang di sekeliling perahu yang bersandar.

Ditetapkan sebagai taman nasional, pembangunan dan kunjungan ke Teluk Maya berada di bawah wewenang pemerintah Thailand, yang menerapkan larangan bermalam di sana pada tahun 2012.

Hanya satu perusahaan wisata, Maya Bay Tours, yang menawarkan kesempatan unik untuk melihatnya setelah matahari terbenam dengan wisata perahu dan saya cukup beruntung untuk mendapat satu tempat pada masa musim liburan yang sibuk.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Menjelajahi Teluk Maya dengan hening.

Begitu naik ke perahu di Phi Phi Don, saya senang karena kelompok wisata ini kecil, hanya sekitar 30 orang dari seluruh dunia.

Setelah berlayar selama 20 menit dengan pemandangan yang indah, kapal mengarah ke jalur masuk menuju Teluk Maya. Pemandangan pasir berwarna kuning muda dan pohon nyiur berlatar belakang tebing bergerigi membuat kami terdiam sehingga hanya suara klik kamera yang terdengar.

Kami tiba siang hari sehingga pantainya tidak sepi namun karena tampak tidak ada bangunan penginapan atau para penjual kerajinan tangan dan jajanan, maka pantainya tetap kelihatan magis seperti dalam film.

Ketika malam mulai tiba, perahu terakhir pun meninggalkan teluk dan tibalah saatnya untuk penjelajahan yang sebenarnya.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Tebing-tebing tampak menjadi bingkai keindahan.

Berjalan di sepanjang pantai berpasir dengan hanya diterangi sorot lampu redup dari perahu di kejauhan, amat mudah membayangkan bahwa kami merupakan orang-orang pertama yang berkunjung ke pulau itu. Selain suara ombak, hampir tak ada suara apapun: sebuah penyambutan yang melegakan hati, berbeda dengan dentuman musik yang biasa terdengar setiap malam di Phi Phi Don.

Untuk benar-benar merasakan suasana pulau pada malam hari, para pemandu membawa kami berjalan melewati pasir pantai. Dengan senter di tangan, saya mengikuti perjalanan ke hutan yang gelap, yang tebal dengan semak-semak dengan bayang-bayang pohon yang tampak seperti sosok menakutkan. Salah seorang pemandu, Coco, amat ahli dalam menemukan penghuni pulau yang paling langka; kepiting pemanjat pohon.

Jauh lebih besar dari kepiting yang bisa ditemukan di pantai-pantai Thailand, kepiting ini memiliki sepit kuat sehingga mempunyai kemampuan unik untuk memanjat ke puncak pohon. Coco memegang seekor kepiting untuk diperlihatkan kepada kami, sambil menjelaskan bahwa meskipun ukuran kepiting hampir sebesar wajah manusia, kepiting itu amat takut dengan manusia dan tidak akan melukai. Kepiting tersebut adalah satwa paling besar di pulau itu yang kaya dengan tanaman namun tidak mendukung kehidupan banyak satwa.

Para pengunjung tidak boleh menginap di pulau jadi kami kembali ke perahu pada malam hari dan mendapat kejutan lain: berenang tengah malam. Air biru yang jernih pada siang hari kini menjadi seperti beludru hitam, yang dengan mudah menyamarkan bahaya yang mengancam.

Hak atas foto BBC World Service
Image caption Turis memadati pantai Teluk Maya yang sejatinya tidak luas.

Untungnya, tidak ada pemangsa di laut. Laut saat itu justru dipenuhi dengan plankton yang bersinar. Plankton-plankton yang amat kecil bersinar amat terang jika terganggu, sebuah reaksi kimia seperti yang terlihat pada kunang-kunang. Kami amat beruntung bisa menyaksikan pertunjukan lampu-lampu yang memukau yang menyaingi terangnya langit dengan bintang-bintang di angkasa.

Tidur di perahu jelas bukan kemewahan karena hanya berbaring di atas kasur busa dengan kantong tidur dan bantal kecil. Namun goyangan lembut perahu dan angin yang sejuk membuat saya terlelap dengan cepat.

Keesokan paginya kami boleh melakukan kunjungan sekali lagi ke pantai yang kosong sebelum perahu-perahu wisata lain berdatangan. Setelah berenang untuk terakhir kali di dekat Teluk Pileh, kami kembali ke Phi Phi Don yang ramai.

Saya menutup mata, memimpikan malam yang saya habiskan di pulau yang sepi.

Silahkan membaca artikel ini dalam bahasa Inggris A crowded Thai island's secret side dan artikel-artikel lain tentang pariwisata di BBC Travel.

Berita terkait