Desa terbersih di Asia ada di India

Sanjanai Kharrymba, Hak atas foto Tanveer Badal
Image caption Sanjanai Kharrymba, 6 tahun,bermain ayunan di halaman rumahnya (Credit: Tanveer Badal)

Di sebuah negara yang dikenal bermasalah ihwal sanitasi – persoalan yang sampai membuat Perdana Menteri India Shri Narendra Modi membentuk sebuah program nasional untuk mengatasinya - desa yang sederhana ini merupakan sebuah model tetang kebersihan.

Di desa Mawlynnong, wilayah timur India, bersih-bersih merupakan ritual yang dijalankan dengan sangat serius oleh setiap orang - dari balita mungil hingga nenek-nenek yang sudah ompong-. Desa kecil dengan penduduk 600 orang di wilayah Meghalaya dikenal sebagai desa terbersih di India.

Dan bagi India, ini sunggu sangat berarti. Botol-botol yang dibuang dan kemasan makanan yang bercampur kotoran sapi - dan lebih buruk lagi dari itu- dengan mudah ditemukan di topografi sebagian besar negara ini.

Begitu banyaknya sehingga Perdana Menteri Shri Narendra Modi meluncurkan program ambisius "Misi India Bersih " (Swachh Bharat Abhiyan) pada Oktober 2014 dengan tujuan mendandani secara drastis kota-kota besar untuk memperingati ulang tahun Mahatma Gandhi yang ke 150 pada tahun 2019.

Hak atas foto Tanveer Badal
Image caption Seorang perempuan tampak membersihkan halaman di Desa Mawlynnong (Credit: Tanveer Badal)

Dan Mawlynnong telah berada jauh di depan. Desa ini dinyatakan sebagai desa terbersih di Asia pada 2003 dan terbersih di India pada 2005 oleh majalah Discover India. Baru-baru ini, Modi mengakui Mawlynnong sebagai desa terbersih di Meghalaya dan sebuah model bagi seluruh negeri, seperti disampaikan dalam pidato radio 2015 lalu.

Pada Mei 2016 dia menyorotinya sebagai ‘desa terbersih di Asia’ dalam sebuah perayaan kesuksesan pemerintah (termasuk Program India Bersih)

Ini melambungkan desa kepada ketenaran, dan Mawlynnong pun menjadi sebuah legenda dan membangkitkan kebanggaan wilayah itu.

Berjalan-jalanlah di sana, dan sampah-sampah yang khas itu secara misterius, dan ajaib, absen.

Hak atas foto Tanveer Badal
Image caption Anak-anak bermain di jalanan desa Mawlynnong (Credit: Tanveer Badal)

Jadi bagaimana mungkin ada sebuah komunitas yang menjadi model kebersihan dan sanitasi di negara yang justru mengalami permasalahan ini secara akut sejak lama? Jawabannya, tampaknya, adalah memulainya sejak masih kecil.

Deity Bakordor yang berusia sebelas tahun memulai harinya sekitar pukul 6.30 pagi. Tugasnya, bersama seluruh anak-anak di desa itu, mempercantik kota. Dengan sapu di tangan, anak-anak turun ke jalanan, membersihkan daun-daun gugur dan sampah sebelum pergi ke sekolah. Anak-anak juga bertugas mengosongkan tong sampah – yang, betapa mengejutkan, memiliki bentuk yang cantik: keranjang anyaman tangan berbentuk kerucut yang tersebar di seluruh kota - dan memisahkan sampah organik dari sampah yang akan dibakar.

Dedaunan dan sampah yang hancur secara alami dikubur (dan nantinya digunakan sebagai pupuk); yang lainnya dibawa ke lokasi yang jauh dari desa dan dibakar. Ada pula tukang kebun kota yang ditugaskankhusus untuk merawat tanaman dan bunga yang berada di jalur jalan setapak, yang membuat jalan kaki di sana sangat menyenangkan.

Hak atas foto Tanveer Badal
Image caption Tempat sampah di Desa Mawlynnong tampak enak dipandang (Credit: Tanveer Badal)

Saya bertanya kepada Bakordor apakah dia senang tinggal di tempat yang bersih seperti itu. Dia mengangguk dengan malu-malu. Dan bagaimana jika seorang pengunjung membuang sampah di jalan, apa yang akan dia lakukan? Dia menjawab bahwa dia tidak akan mengatakan apapun kepada pengunjung itu secara langsung. Tetapi dia akan memungut sampah itu.

Bakordor menjelaskan bahwa di Mawlynnong, bersih-bersih biasa dilakukan di hari biasa untuk anak-anak dan dewasa, kemudian ada hari khusus pada setiap Sabtu ketika pemimpin desa menugaskan "kerja bakti" demi kebaikan kota tersebut.

Bagi dia, itu bisa berarti membantu membersihkan sekolahnya. Ini merupakan sistem yang mengagumkan, tetapi bahkan lebih mengesankan bahwa itu merupakan sebuah norma. Kebersihan sangat tertanam dalam kehidupan di sana; itu hal yang begitu saja dilakukan.

Saya mengintip di dapur keluarga itu, yang berada di luar rumah untuk melihat hasil kerja keras itu. Dan nenek Bakordor, Hosana, menyibak tirai yang menuju rumah dua kamar milik mereka. Bisa dipastikan, setiap area rapi sekali: lantai baru disapu, piring berkilau, dan tempat tidur sangat bersih.

Hak atas foto Tanveer Badal
Image caption Deity Bakordor, 11 tahun, memulai hari dengan membersihkan jalan bersama anak-anak Desa Mawlynnong lainnya. (Kredit: Tanveer Badal)

Jadi dari mana kerutinan ihwal kebersihan ini berasal? Tidak ada yang terlalu yakin mengenai hal itu. Tetapi, menurut pemandu saya Shishir Adhikari, tampaknya ini terkait upaya untuk menghentikan wabah korela lebih dari 130 tahun yang lalu, dan saat itu kebersihan digalakkan untuk mengendalikan penyebarannya.

Para misionaris Kristen awal kemungkinan membantu menjalankan dan mendorong praktik tersebut.

Penduduk desa juga merupakan warga Khasi, suatu masyarakat yang secara tradisional matrilineal. Mungkin, dengan perempuan yang dominan dalam masyarakat, menjaga rumah dan lingkungan juga mengambil peran penting, begitu Adhikari dan saya berandai-andai.

"Kami menjadi Kristen sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, dan belajar tentang kebersihan dari orangtua kami," kata Sara Kharrymba, seorang ibu rumah tangga. “Kami mewariskan kemampuan ini kepada anak-anak kami, dari mereka ke anak-anak mereka."

Dengan kata lain, ini bukan merupakan kebiasaan, ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak dulu. Kharrymba sendiri memulai hari dengan membersihkan halaman mereka, katanya.

Hak atas foto Tanveer Badal
Image caption Rumah-rumah di Desa Mawlynnong sangat sederhana terbuat dari bambu dan besi, dan halaman mereka bersih rapi (kredit: Tanveer Badal).

Ketika kami berbincang, dia tersenyum kepada anak perempuannya yang berusia enam tahun- Sanjanai, yang tengah bermain ayunan yang dibuat dari kantong plastik bekas.

Pertanyaan apa yang dilakukan dengan

sampah plastik tetap merupakan masalah besar, karena membakarnya menghasilkan racun. Seringkali barang-barang itu digunakan kembali, wadah atau kontainer dipakai untuk tanaman dan kantung menjadi ayunan.

"Anak-anak saya tahu bahwa di sini berbeda," kata Kharrymba.

Anak-anaknya belum pernah keluar dari desa itu, dia menambahkan. Tetapi "terkadang tamu-tamu menginap di sini, dan mereka bercakap-cakap." Dia memaparkan bahwa setiap rumah di desa itu memiliki toilet (sebuah pencapaian besar dalam program India Bersih). Ia juga mengungkapkan kegembiraannya terkait betapa patuhnya anak-anaknya pada aturan tentang kebersihan.

Dia termangu sejenak, menatap ke kolam kecil di tanach miliknya, yang airnya tampak sangat jernih. "Saya bangga tinggal di sini, " katanya.

Anda bisa membaca artikel aslinya The Cleanest Village in Asia atau artikel lain dalam BBC Travel.